Rabu, 27 Mei 2015

Ibu

Hari ini saya sibuk seharian, jadi saya menitipkan abhirama pada mama, beliau yang semi ibu rumah tangga dengan senang hati menggendong cucunya, mengalihkan perhatiannya agar saya bisa pergi tanpa membuatnya menangis. Kala itu saya melenggang dengan tenang, memacu motor dengan bahagia. Maklum, susah rasanya pergi tanpa dikuntit abhirama, jadi saat bisa pergi tanpanya, ada sisi yang bergejolak senang, meski sisi lainnya merasa gelisah.

Tujuan pertama saya toko bangunan, berhubung sedang renovasi rumah, saya jadi sering datang kemari. Setelah casciscus ngobrol saya duduk dikursi tunggu menunggu belanjaan diantar keparkiran. Disebelah saya duduk seorang ibu paruh baya, setua ibu saya mungkin, sedang menggendong bayi yang cantik -saya tebak itu cucunya- mirip sekali dengan si ibu tersebut. Belum sempat saya menyapanya, seorang gadis muda lebih dulu datang dan menghardik ibu tersebut
"Mami, icha dikasi permen ya ?"
"Iya, gapapalah sedikit"
" mami gimana sih, nanti giginya rusak. Dan bla bla bla"

Saya yang tadinya tersenyum gemas lihat bayi lucunya jadi meringis merasakan sakit di dada. Gadis muda itu berbicara pada wanita yang disebutnya mami dengan nada meninggi. Aduh, saya jadi teringat pada mama. Jujur, saya juga sering berbicara dengan nada tinggi pada ibu saya, sering mengomel karna caranya merawat abhirama yang bersebrangan dengan ideologi saya.

Saya jadi mengingat ingat, perjuangan ibu saya membesarkan dan merawat saya. Beliau bukan orang berpendidikan, sekolahnya hanya sampai madrasah aliyah, menikah dengan ayah saya dengan status janda beranak 3. Dua kali beliau gagal berumahtangga sebelum akhirnya bertemu bapakku dan melahirkan tiga anak yang lucu. Tiga anak terdahulunya hanya mencicipi bangku sd, jadi besar harapan ibuku pada diri ini untuk menjadi seseorang yang bisa mengangkat derajat kami. Beliau berjuang menyekolahkanku dan adikku dengan segala daya dan upayanya, mulai dari menjadi buruh cuci, sampai juru masak catering.

Beliau kerja keras demi menghidupi kami, karna bapak depresi pasca mengalami kebangkrutan. Saya masih ingat bagaimana mama berangkat subuh, mengait lengan kami sambil berjualan koran, sepulangnya dari berdagang beliau kerumah tetangga menyuci atau menyetrika pakaian, tak jarang juga beliau diminta untuk memijat, yang merupakan keahliannya yang lain.

Mama selalu ada disaat kami menangis karna uang sekolah kami sudah ditagih guru, selalu datang mengemis keringanan biaya sekolah agar anaknya bisa ikut ujian. Hingga di saat terakhir kelulusanku pun beliau masih mengemis agar ijasahku bisa di keluarkan oleh sekolahku, agar aku bisa menggunakannya untuk bekerja. Sayangnya ijasahku masih disana juga.

Aku lupa bagaimana mama tidak pernah membentakku. Sumpah, mama sama sekali tidak pernah membentakku. Hanya sekali beliau mencubit pahaku sampai biru saat aku pulang magrib habis main di sungai. Itupun beliau menangis memelukku setelahnya. Aku tau beliau tak kuasa menghardikku karna bapakku sudah lebih dulu menghujaniku tamparan, tinjuan atau sabetan ketika aku dianggap nakal. Yaa, masa kecil yang kurang membahagiakan. Hehehe

Ahh, aku jadi lupa bagaimana ibuku mencuci bajuku saat aku hamil besar, mengepel, dan menyapu, memasakkan untukku hingga beliau kelelahan. Beliau juga yang membuatkan segala rupa jamu saat aku melahirkan dan nifas, beliau yang mencuci popok anakku, memandikannya hingga aku terima beres untuk menyusuinya saja. Aku masih ingat bagaimana aku mengomel karna tagihan listrik yang naik akibat ibuku sering mencuci dengan mesin cuci, memintanya mencuci dengan tangan. Aduh, durhakanya aku.

Semua yang terjadi dalam hidupku adalah berkat usahanya, sujudnya di sepertiga malam dan aku masih belum bisa menghargainya dengan apapun.

Aku masih sering diam saja kalo ada orang yang berpikir beliau pembantuku saat aku sedang pergi ke suatu acara. Padahal aku punya kesempatan menjelaskannya tapi aku malas. Aku juga masih sering memerintah ini itu pada mama.

Setelah adegan menghardik yang kusaksikan aku langsung mengcancel semua acaraku. Aku mau pulang, aku mau memeluk ibuku, aku mau mencium pipinya. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali mencium atau memeluknya dengan penuh kasih sayang. Aku lupa mengucapkan terimakasih untuk setiap usahanya menjaga anakku. Aku bahkan lupa menyisihkan rizky ku untuknya. Ya Allah, ampuni aku. 

10 komentar:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Yang Ibuku ajarkan padaku sangat banyak, dan tak akan pernah terlupa. Walau dirinya kini tiada, tetapi dia memberikan kehidupan dan ajarannya di dalamku. :)

    Tulisan yang sangat bagus
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan kita tak sempat membalas jasanya :(.

      Makasih mas ron

      Hapus
    2. Dan kita tak sempat membalas jasanya :(.

      Makasih mas ron

      Hapus
    3. Dan kita tak sempat membalas jasanya :(.

      Makasih mas ron

      Hapus
  2. Mbaak aku terharu bacanya, jadi kangen emaak :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga nangis waktu nulis. Inget dosaku. huaaaa 😭😭😭

      Hapus
  3. Iya, mamah ku juga gitu, sering kali kitanya yang khilaf, tapi mamah mah besoknya udah baik lagi. Hwaaaa T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka nyesel udah bikin salah ya mba :(

      Hapus
  4. Saya jadi pengen pulang..ketemu Ibu. Biarpun kami jauh, apa yg dirasakan Ibu baik sedih atau senang pasti selalu aku rasakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semacam punya ikatan batin ya mba :)

      Hapus

Windah Saputro. Diberdayakan oleh Blogger.