Jumat, 26 Januari 2018

Yuk Cegah Stunting dengan Hidup yang Lebih Sehat


Kemarin adalah satu hari dimana saya menuntut banyak sekali ilmu tentang Gizi. Dan sebenarnya dengan malu saya mengakui bahwa saya baru tahu kalau Hari Gizi Nasional jatuh pada tanggal 25 Januari. *selftoyor

Beruntung lah saya sebagai netizen jaman now, serta adanya sosial media jadi tahu bahwa Hari Gizi Nasional ini diperingati demi mengingatkan kembali bahwa kita sebagai negara berkembang masih punya peer dibilang kesehatan khususnya gizi masyarakatnya. Di berita, sudah banyak informasi yang memberitahukan bahwa anak anak kita rawan terkena stunting, bahkan beberapa juga di sorot akibat kasus obesitas yang berujung kematian.

Masihkah kita mau tutup mata melihat hal ini?


Kementerian Pendidikan dan kebudayaan bersama YAICI dan Muslimah NU pada Selasa 23 Januari 2018 kemarin menyelenggarakan sebuah kegiatan yang bertajuk Hari Gizi Nasional 2018, Mewujudkan Indonesia Emas 2045, Anak Indonesia Jaman Now, No Malnutrisi, No Obesitas, Sayangi Anak dengan Makanan Bergizi Seimbang" bertempat di Gedung Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lantai 3.


Bahasan utamanya tentu menyoroti pada kebiasaan dan pola konsumsi masyarakat Indonesia khususnya anak anak kita yang sudah darurat sekali terpapar GGL ( Gula, Garam, Lemak) secara berlebihan. Anak anak dengan konsumsi GGL yang berlebihan akan menyebabkan masalah gizi berupa dua hal yakni Stunting dan Obesitas. Ingat ya, GGL gak cuma bikin anak kegemukan, tetapi juga bisa bikin stunting.

Gaya hidup para orang tua yang serba modern terkadang menjadi kambing hitam dari perilaku konsumsi yang kurang tepat ini. Makan makanan rumah sudah berpindah menjadi makan makanan fast food yang penuh minyak dan lemak. Plus penggunaan garam dan gula yang berlebihan tiap harinya membuat anak cenderung menghindari sayur dan buah yang rasanya kalah gurih dan manis.


Padahal, kasus stunting di Indonesia terus menjadi sorotan di dunia kesehatan. Stunting akan mempengaruhi sistem kerja otak sehingga anak anak dengan stunting dinilai memiliki masa depan yang suram karena fungsi otaknya tidak berfungsi optimal, selanjutnya nilai nilai sekolahnya juga terpengaruhi menyebabkan anak sulit mendapatkan pekerjaan yang baik. Dampak jangka panjangnya akan berpengaruh pada ekonomi Indonesia di tahun 2045 nanti.

Lalu bagaimana mencegah masalah gizi ini terus berlarut? Menurut Prof. Dr. Dodik Briawan MCN, Ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga SEAFAST IPB dan Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd, anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI yang menjadi pembicara pada kegiatan ini bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk orang tua agar anaknya terhindar dari masalah gizi, yakni

1. Nutrisi pada anak dipenuhi sejak 1000 hari pertamanya terhitung sejak ibu dinyatakan hamil, bukan saat anak lahir ke dunia. Jadi pastikan ibu mendapat nutrisi yang cukup selama kehamilan sehingga mampu membentuk anak yang cerdas.


2. Berikan ASI di 6 bulan pertama bayi dilanjutkan dengan MPASI yang bergizi tinggi. Selalu usahakan untuk memberikan makanan dari rumah yang tinggi akan protein, karbohidrat dan lemak di awal MPASI. Jangan memberi anak tepung tepungan, pisang dan semacamnya yang gizinya sangat kurang. Menurut dokter Damayanti, bayi sudah mengenal berbagai rasa sejak dalam kandungan melalui air ketuban, jadi gak ada alasan memberi anak makan satu macam saja.

3. Pelajari soal porsi piring makanku, dimana ada pembagian karbo, protein, lemak dan serat. Serta berikan juga buah dan sayur.

4. Beri anak bekal ke sekolah, jangan biarkan mereka jajan sembarangan apalagi diluar pagar sekolah.

5. Makan fast food boleh, tapi perhatikan jumlah konsumsinya. Jangan makan fast food setiap hari.


Nah, gimana nih para ibu? Sudah saatnya kita bergerak untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan anak lho. Jangan demi mengikuti gaya hidup modern, kita melupakan tanggung jawab sebagai ibu yang berkewajiban menelurkan generasi cerdas ya. Oh iya satu lagi yang penting, jangan gantikan ASI dengan susu kental manis ya, kayaknya akhir akhir ini banyak banget yang cerita kalau anaknya dikasih SKM sebagai pengganti asi dan susu formula. Padahal SKM itu minuman berperasa susu lho, bukan susu beneran. Kandungannya 60%nya adalah gula. Kebayang dong kalo anak kita dikasih SKM tiap hari, bisa diabetes nanti. 

11 komentar:

  1. Oh stuntingteh pendek ya mbak? Kirain BB juga memengaruhi stunting.

    BalasHapus
  2. Aku jarang ajak anakku makan fast Food, paling seminggu sekali. Di rumah kalau dia lagi ga mau maka sayur wajib makan buah. Tapi tetap saya jelaskan sayur itu penting supaya dia mau makan sayur.

    BalasHapus
  3. PR Baruku akan nambah saat Alfath mulai sekolah nanti nih, harus siap dengan list menu bekalnya, semoga dimakaan, haha

    BalasHapus
  4. Generasi masa depan yg cemerlang, dihasilkan dr anak anak dg ketercukipan gizi.

    BalasHapus
  5. Iyes,jangan ganti asi dengan SKM.

    BalasHapus
  6. Mkaan fast food apalagi yg beli di resto tiap hari jg gk baik buat kesehatan kantong emaknya hihihi

    Gizi ini emang penting banget ya diperhatikan demi pertumbuhan anak2 TFS

    BalasHapus
  7. Isi piringku ini menentukan sekali kualitas tumbuh kembang anak ya. Harus disosialisasikan nih biar Indonesia bebas stunting, tinggi-tinggi kaya bule hehe

    BalasHapus
  8. Ibu juga harus pandai mengolah makanan agar keluarha terjamin kebutuhan nutrisi dan gizinya.sehingga tidak terjadi malanutrisi seperti Stunting dan Obesitas

    BalasHapus
  9. Anak-anak harus dibikin kenyang dengan menu yg pasti bergizi agar tidak jajan sembarangan dan kena gizi buruk

    BalasHapus
  10. Jaga asupan bumil hingga anak lahir penting banget ya,moga sehat sehat selalu,win

    BalasHapus
  11. Semoga bayi mu lahir sehat ya win, tentunya ibunya udah cerdas nih pilih makanan yang baik buat si dede. Semangat yaaa....

    BalasHapus

Windah Saputro. Diberdayakan oleh Blogger.