Jumat, 13 April 2018

Main Ke Dufan Bareng Vivacoid



Sebagai salah seorang wanita yang selalu gatal kalau berdiam diri dirumah, saya merasa tersiksa karena sudah 3 bulan 11 hari terkungkung dalam rumah. Mau kesini gak boleh, mau kesana gak boleh, mau kesana sini apalagi. Gak boleh!

Ini jelas salah, ibu menyusui itu harus happy, gak boleh stress. Kalo terus terusan begini nanti ASI saya seret. Ini namanya darurat piknik. *lalu saya demo* gak deng, saya gak berani demo cuma karena butuh piknik *fingercross*

Lalu Vivacoid datang, membawa pesan, bahwa busui harus piknik ke Dufan. Yeay!

Liburan le Dufan dengan bayi yang hampir dua bulan memang bukan hal yang mudah, selain perintilan yang harus dibawa segambreng, saya juga gak bisa ikut banyak permainan karena bayinya gak ada yang pegang. Yaudah deh ngalah aja, yang penting bisa keluar rumah dulu. Recehan banget akoh!

Pada Dufan Ku Jatuh Cinta


Terakhir ke Dufan itu tahun 2011, pergi bareng 4 teman kasir sebagai bukti solid nya kami gak cuma saat kerja, main pun juga *eaaa. Histeria, bianglala, kora-kora, halilintar. Sebut saja semua permainan yang ada di Dufan, kami sudah pernah menikmati. Gelar cemen bukan untuk kami *lap ingus

2018, dengan menggendong seorang bocah, serta menggandeng bocah lain yang hitam dan dekil, kami melewati meja registrasi. Big thanks buat Vivacoid yang berbaik hati ngajak kami main disini secara gratis. *salim.

Dengan mata berbinar binar, bocah dekil nan hitam yang bernama Abhirama itu berlari ke wahana pertama. Carousel. Komidi putar. Jarang goyang. Apapun itu namanya. Dia super excited ngantri dengan tertib selama 15 menit.


Setelah puas satu putaran, dia merangsek maju, wahana bianglala menarik matanya "yok naik" pekik bapaknya bagai anak sd yang baru dibeliin mainan sama ibunya. Sayangnya Abhirama  punya mental yang sedikit melempem, baru lihat tingginya si biang lala, doi langsung kabur. Takut jatoh, he said.

Dengan wajah kecewa, bapaknya nunjuk wahana lainnya. Gajah bledug jadi pilihan berikutnya. Mamaknya gagal mengikuti keseruan mereka karena anak bayi udah nangis minta nyusu. Huft.

Puas muter muter dari satu wahana ke wahana lainnya, Abhirama memilih ngadem di bawah pohon kapuk. Eh, itu beneran pohon kapuk bukan ya *sotoy nya kumat*.

Di Dufan, selain wahana permainannya sangat beragam, tempat ngaso nya juga banyak. Pepohonan yang rindang di tanam disana sini, ada yang sudah tinggi menjulang, ada yang rimbun mengembang. Dibawah pohon biasanya di beri lingkaran, tinggi enam puluh centi kurang lebihnya. Enak buat duduk sembari minum teh dingin botolan yang keluar dari mesin penjual minuman otomatis.

Yang lapar bisa makan di restoran yang ada diseputar area wahana bermain. Pilihannya banyak, ada yoshinoya, ayam penyet, restoran Jepang, dan masih banyak lagi. Semua bisa dimampirin saat perut keroncongan. Harganya juga gak jauh beda sama di luar Dufan. Tapi kalo yang bawa uang pas pasan, bisa juga menikmati cemilan distand kecil seperti roti, kentang bumbu, dan yang lainnya.

Selain makanan, stand boneka dan oleh oleh juga banyak. Cocok lah buat kamu yang dateng sama pasangan. Abis teriak teriak di kora kora, berikan dia boneka. Lalu dia akan selalu cinta, kayak di drama korea gitu.

Luas area Dufan ini 9,5 hektar yang terbagi menjadi 9 wilayah tematik seperti Jakarta tempo dulu, Asia, Eropa dan lainnya. Tiap tiap wilayah ini punya permainannya masing masing. Fungsi dari pembagian wilayah ini menurut saya selain membuat kita kenal dan belajar, juga biar gak nyasar. Jangan bengong ya kalo ke Dufan, nanti kalo nyasar kamu gak bisa pulang. Heuheu.

Sejak diresmikan di tahun 2007 oleh Gubernur Jakarta, Dufan semakin hari semakin maju dalam hal teknologi dan semakin banyak wahana nya. Meski makin banyak wahana permainan baru tapi antusiasme para fakir piknik tetap membludak, bahkan saat weekend, kami harus antri selama satu jam untuk naik kora kora. Sungguh perjuangan yang luar biasa.
Teknologi lain yang ada di Dufan adalah air minum tap yang bisa langsung diminum tanpa perlu dimasak *simpan panci*. Kayaknya sih alatnya masih tahap uji coba atau semacamnya, soalnya pas saya mau pakai airnya macet. Atau mungkin saya apes?

Pokoknya kalo ada waktu lagi, saya mau ah ke dufan lagi. Dan sekarang udah ada annual pass dari Dufan dimana kita cukup bayar 299rb, maka kita bisa sepuasnya masuk Dufan selama satu tahun. Ih waw banget kan. Mau ahh

0 comments:

Posting Komentar

Windah Saputro. Diberdayakan oleh Blogger.