Minggu, 27 Oktober 2019

Peran Perempuan dan Sosial Media


Angka perceraian di beberapa kota terhitung tinggi, yang mencengangkan di kota tertentu ada fenomena terbaru yakni perceraian yang disebabkan oleh sosial media. Wah sosial media? 

Pada kenyataannya, sosial media bagaikan sebilah pisau dengan dua mata yang sama tajamnya. Pisau ini bisa berfungsi untuk kebaikan, bisa juga menjadi senjata mematikan. Tergantung dari sudut mana kita memanfaatkannya. Sedihnya, angka perceraian yang tinggi ini sering diakibatkan media sosial yang menjadi jarak bagi pasangan, menjadi pintu bagi hubungan terlarang hingga menimbulkan sikap abai dan lalai terhadap tugas dan tanggung jawab. Media sosial itu kejam, tapi kita tidak bisa menjauhinya, kita hanya bisa mengontrolnya untuk menjadi media yang positif. 

Media Sosial dan Perempuan


Pada kesempatan yang langka, saya mendapat undangan untuk hadir di Pengarusutamaan Gender dengan tema perempuan dan media sosial, peran perempuan menghadapi pengaruh media sosial dalam rangka menjaga ketahanan keluarga. Kenapa wanita yang menjadi sasaran edukasi?  Karena kenyataannya, wanita adalah kunci utama keluarga yang baik dan bahagia. Wanita memiliki tanggung jawab melahirkan dan mendidik anak sehingga menjadi generasi yang cerdas. Nah tantangan di era millenials ini, wanita dituntut untuk tidak hanya cakap bersosial media namun juga pintar untuk menyaring informasi yang didapatkan di sosial media.


Wanita, dengan emosi yang lebih sering labil menjadi sasaran kejahatan sosial media dan lebih rentan bermasalah di media sosial. Menurut Ibu Trisna Willy Lukman Hakim S. bahwa memiliki media sosial itu harus dipikirkan dampak yang mungkin akan berlanjut setelah posting. Dipikirkan sebelum mengetik dan berkomentar karena UU ITE bisa menjerat siapa saja. Ungkapnya lagi, baik wanita dan pria punya porsi yang sama dalam menjaga diri serta keluarga. Namun bagi wanita, godaan lebih besar untuk mencegah anak dan suaminya untuk larut dalam media sosial.

Dukungan pemerintah bagi pembentukan keluarga yang kuat



Membentuk keluarga yang kuat, tidak hanya terjadi didalam keluarga saja, tetapi juga perlu dukungan dari lingkungan sekitar termasuk didalamnya adalah pemerintah. 

Nah dalam hal ini pemerintah telah berupaya untuk membendung masuknya hal hal negatif agar dapat mengurangi masalah sosial yang disebabkan oleh sosmed. 

Pencegahan yang dilakukan pemerintah diantaranya ;


  • Memblokir konten konten yang meresahkan
Belakangan, konten yang meresahkan seperti hate speech banyak sekali beredar. Bahkan tak jarang menyebabkan pertikaian. Oleh sebab itu, pemerintah melalui laporan masyarakat memblokir konten yang dinilai meresahkan. Konten ini bisa dari sosial media manapun, baik itu Facebook, twitter, instagram dan yang lainnya. 


  • Memblokir pornografi
Dewasa ini, anak anak lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah dengan bermain gadget. Tidak dapat di pungkiri bahwa konten negatif seperti pornografi bisa dengan mudah mereka nikmati. Maka ada peran pemerintah yang membantu memblokir konten seperti itu. 


Nah, berhubung kita adalah masyarakat yang baik, tentu kita paham untuk tidak menyebarkan konten negatif dan membuat konten yang lebih positif. 

Sosial media bisa dimanfaatkan dengan baik, untuk mendapatkan keuntungan moril maupun materiil seperti untuk berdagang, reuni dengan teman lama dan masih banyak lagi. Mari ciptakan lingkungan yang kondusif bagi keluarga kecil kita. Karena jika keluarga kuat, maka negara juga akan tumbuh kuat. 


0 comments:

Posting Komentar

Windah Saputro. Diberdayakan oleh Blogger.