Rabu, 16 Maret 2016

Polio yang Menyakitkan

                “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya.” (Al Baqarah : 287)

         Hujan malam ini meniupkan angin yang meresap ketulang belikat saya, makin menambah kepiluan hati ini begitu mengingat akan Mami Ros, Tante saya yang berada di kota seberang sana. Saya ingin sekali menjenguknya, tapi apa daya jarak diantara kami serta keluarga yang tak mengijinkan menjadi kendala.


            Alih alih menyalurkan rasa rindu, saya malah membuat tulisan ini dan menambah kerinduan saya pada beliau. Tak apalah, dia juga pasti bangga mengetahui ponakannya membuat tulisan ini dengan niatan agar orang lain terhindar kemalangan seperti dirinya. Ya, mami Ros begitu malang karna beliau harus kehilangan fungsi kakinya diusia yang sangat muda akibat penyakit yang belum ada obatnya yakni polio.

 Polio menghancurkannya


            Mami Ros masih berusia 20 tahunan saat ia tiba tiba demam dan tubuhnya terasa sakit. Awalnya dia berpikir ini karna kelelahan berkejar kejaran dengan anak satu satunya yang sangat aktif, nyatanya setelah tiga hari berselang kedua kakinya tidak dapat digerakkan. Setelah dibawa ke dokter baru diketahui bahwa mami Rose mengidap Pasca-Polio Syndrom dan kedua kakinya dinyatakan mengalami lumpuh layu dan sedihnya mami tak dapat melakukan pengobatan apapun karna keterbatasan biaya kala itu.

Mami Ros (foto sengaja dipudarkan atas permintaan anaknya)

            Nasib malangnya tak berhenti disitu, akibat kelumpuhan yang dideritanya sang suami pun menggugat cerai dan meninggalkannya bersama sang anak. Ah, saya benar benar tak sanggup membayangkannya. Padahal mami bercerita tanpa meneteskan air mata, tapi saya malah merasa hatinya menangis karna wajahnya begitu sendu dengan tatapan yang getir. Maafkan aku mi, mengorek luka hatimu.

            Oh ya, Pasca-Polio Syndrom adalah kondisi dimana seseorang yang pernah terkena virus polio di masa lampau kemudian menderita gejala lanjutan seperti melemahnya kekuatan otot, depresi, menurunnya massa otot dan mudah lelah. Biasanya sindrom ini menimpa orang orang pada usia 30 – 40 tahun, tapi mami Ros menjadi orang spesial yang harus menderita penyakit ini sebelum usia kebanyakan penderita. Mami bercerita dulu dia pernah sekali terkena radang tenggorokan yang teramat parah, tapi lagi lagi karna keterbatasan biaya beliau hanya pergi ke tabib dan di beri ramuan obat. Setelah kejadian ini beliau tersadar bahwa bisa jadi sakitnya saat itu adalah gejala polio yang tak terdeteksi oleh tabib.

tentang penyakit polio

            Pada dasarnya ada tiga tipe polio yakni infeksi subklinisnon paralisis dan polio paralisis, perbedaan ketiganya terletak pada gejala serta beratnya serangan dari virus polio. Untuk yang non-paralisis bisa dibilang masih golongan ringan, gejalanya diantaranya muntah, lemah otot, demam, meningitis, sakit tenggorokan, sakit kepala dan nyeri dan kaku pada beberapa sendi seperti leher, kaki, tangan dan punggung. Sedangkan untuk paralisis biasanya mendapat gejala yang sama dengan non paralisis tetapi berlanjut ke gejalayang lebih serius yakni kelumpuhan.



    Pentingnya Pencegahan

           
            Sebenarnya polio bisa dicegah dengan melakukan vaksin, serta rutin menjaga kebersihan diri dan lingkungan, karena kenyataanya polio merupakan penyakit yang berasal dari virus yang menular melalui kotoran tinja dan cairan yang keluar ketika penderita bersin.


pengetahuan tentang polio


            Sayangnya di Indonesia sendiri banyak yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya vaksin atau imunisasi polio, padahal dampak polio tidak hanya menimbulkan kelumpuhan seperti tante saya, tetapi juga kematian. Pemerintah sudah menggalakkan Pekan Imunisasi Nasional di seluruh pelosok negri dengan harapan dapat memusnahkan virus polio ini, sayang sungguh sayang masih banyak juga perdebatan yang terjadi, ah seandainya mereka tahu bahwa terkena polio itu merenggut segalanya, apa masih mau mereka menolak vaksin ? Haruskah kita terkena dulu baru belajar sesuatu? Semoga saja tidak yaa.

pencegahan polio
PIN yang digalakkan pemerintah untuk mencegah polio (doc. Anjari Umarjianto)


            Dari pengalaman ini saya belajar untuk selalu menjaga kebersihan terutama apabila kami sedang di tempat umum karna kita gak bisa mendeteksi datangnya penyakit. Dan yang terpenting saya kembali mengedukasi pada semua teman, tetangga dan saudara akan pentingnya imunisasi terlebih sekarang banyak ponakan ponakan saya yang baru lahir dimana mereka harus di imunisasi dasar lengkap supaya terhindar dari berbagai penyakit. Saya pun rela menyisihkan uang belanja untuk kebutuhan mendadak kalau tiba tiba abhi, ayah atau saya tiba tiba menampakkan gejala penyakit serius terlebih terhadap penyakit polio ini sehingga bisa langsung cuss ditangani oleh orang yang ahli dan kompeten di bidangnya

cara mencegah polio


            Saya pun berharap kita semua bisa mengambil hikmahnya sekaligus berdoa semoga pengalaman mami ros dan tante tante lainnya di luar sana tidak terulang pada kita dan keluarga. Aamiin aamiin Allahummaaamiin.




Sumber Informasi
1. Dokter, Alo.2015.Polio. Diakses 15 Maret 2016.http://www.alodokter.com/polio
2. Obat, Situs.2013.Pengertian, Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan Poliomielitis.Diakses 15 Maret 2016.http://www.situsobat.com/2013/04/pengertian-penyebab-gejala-pengobatan.html



19 komentar:

  1. Terimakasih sudah berbagi cerita ini Mbak Windah. Sayang banget memang masih ada orang yang mengatakan anti dan tidak mau memberikan vaksin. Semoga gak ada yang sampai harus mengalami penderitaan yang tantenya Mbak Windah alami ya. Salam buat beliau Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, perlu edukasi tentang ini, terimakasih ya

      Hapus
  2. Lebih baik mencegah daripada mengobati ya mba..
    Seminggu yang lalu anak saya diimunisasi polio, dan dianya suka, rasanya manis katanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mba, rasanya memang manis, kemarin juga ankku nyobain dan suka. hehe

      Hapus
  3. dooh miris banget yaa..

    smoga dengan adanya PIN yang marak sekarang ini makin membukakan mata para orang tua yaa

    BalasHapus
  4. Ya Allah, sedih. Suaminya minta cerai :'(
    Moga ngga ada lg mami Ros yg lain yah,amin.

    BalasHapus
  5. Sedih bacanya, dan jadi mulai berpikir...kemarin vaksin Naeema sudah lengkap belum ya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. di cek lagi mba bukunya, semoga tidak ada yang tertinggal

      Hapus
  6. Kisah yang menggugah. Semoga semakin banyak yang ikut Pekan imunisasi polio 2016 kemarin.

    BalasHapus
  7. Pelajaran berharga buat kita semua...

    BalasHapus
  8. Vaksin sangat penting, tetapi masih banyak yg mengabaikannya. Makanya memberikan sosialisasi ttg vaksin juga gak kalah penting. Inspiring story Mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, sayang banyak yg belum teredukasi

      Hapus
  9. Windah, postingannya membuat bunda tercekik leher karena menahan tangis. Sudah jatuh ditimpa tangga pula. Laki-laki macam apa tuh suaminya. Jadi ikut sewot/jengkel. Semoga Mami Ros sekarang usianya berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bun, saya pun seperti disayat rasanya, beliau kini berusia 56 tahun

      Hapus
  10. Semoga cepat sembuh orang2 yang terkena polio

    BalasHapus

Windah Saputro. Diberdayakan oleh Blogger.